Perawat dalam Membantu Tindakan Amniosentesis

Perawat dalam Membantu Tindakan Amniosentesis
Perawat dalam Membantu Tindakan Amniosentesis

Amniosentesis adalah penusukan kantung amnion secara hati-hati lewat abdomen untuk tujuan diagnostik dan terapeutik.

Amniosentesis adalah prosedur yang memerlukan permintaan izin tertulis dimana cairan amnion disedot dari dalam rongga uterus dengan memasukkan jarum lewat perut dan dinding uterus kedalam kantung amnion.

Waktu normal untuk pelaksanaan prosedur ini adalah pada saat usia kehamilan16 dan 18 minggu dengan penyedotan sekitar 20 ml cairan amnion untuk dianalisa

INDIKASI
A. Diagnostik
  • Bulan-bulan awal (14 sampai 16 minggu)

Untuk diagnosa kelainan kromosom dan genetik

  1. Kelainan terkait kromosom seks
  2. Penentuan kariotipe
  3. Kelainan metabolisme bawaan (Inborn errors of metabolism)
  4. Defek lempeng saraf (Neutral tube defects)
  • Bulan – bulan berikutnya
    1. Maturitas janin
    2. Tingkat hemolisis janin pada ibu tersensitisasi Rh
    3. Cairan ketuban mengandung mekonium

B. Terapeutik

  • Setengah awal periode kehamilan
    1. Induksi aborsi dengan penetesan bahan kimia seperti NaCl hipertonik, urea, atau prostaglandin
    2. Dekompresi uterus pada hidramnion akut
  • Setengah akhir periode kehamilan
    1. Dekompresi uterus pada kasus-kasus hidramnion kronis yang tidak responsif
    2. Memberikan transfusi janin intrauterin pada hemolisis berat pasca isoimunisasi Rh
    3. Infus amnion-infus NaCl 0,9 % hangat ke dalam rongga amnion, lewat perut atau lewat serviks untuk meningkatkan volume cairan amnion

PERSIAPAN PRAPPROSEDUR

  1. Minta izin tertulis dari pasien
  2. Pastikan bahwa ultrasonografi sudah dilakukan untuk mencari letak plasenta untuk mencegah penusukan yang berakibat perdarahan dan perdarahan fetomaternal
  3. Pemberian profilaksis 100 mg imunoglobulin anti-D pada ibu Rh negatif yang non-imun
  4. Instruksikan pasien untuk buang air kecil
  5. Pembersihan kulit diperlukan pada hari pelaksanaan prosedur
  6. Ukur tanda vital ibu dan ambil gambar frekuensi detak jantung janin selama 20 menit sebagai data awal

(Baca Juga : Prosedur Membantu Pelaksanaan Bronkoskop)

PERANGKAT ALAT DAN PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN
  • Nampan TPR
  • Stetoskop
  • Sarung tangan steril
  • Nampan perangkat balutan
  • Duk steril -4
  • Lignokain 1 %
  • Spuit sekali pakai – 5 mL, 20 mL
  • Kapas usap
  • Larutan antiseptik
  • Botol-botol steril – untuk menampung bahan
  • Jarum spinal ukuran 20-22 dengan panjang 10 cm disertai stilet
PROSEDUR
No Tindakan Keperawatan Rasionalisasi
1 Jelaskan kepada pasien pentingnya /tujuan prosedur serta bagaimana pelaksanaannya Meminimalisir kecemasan dan mendapatkan kerjasama pasien
2 Pastikan permintaan izin tertulis dari pasien sudah ditandatangani Memastikan pemahaman penuh dari pasien terkait pelaksanaan prosedur dan melindungi tenaga medis
3 Instruksikan pasien untuk buang air kecil, bila janin berusia lebih dari 20 minggu usia kehamilan (bila kurang dari 20 minggu, kandung kemih pasien yang penuh akan menahan uterus dengan stabil dan keluar dari panggul) Menghindari cedera pada kandung kemih pasien
4 Kumpulkan peralatan Memberikan kerapihan dan menghemat waktu dan tenaga
5 Berikan privasi Mengurangi kecemasan
6 Bantu pasien berbaring telentang Memaparkan area penusukan
7 Periksa tanda vital dan frekuensi detak jantung janin Mendapatkan data awal
8 Cuci tangan dan pakai sarung tangan steril Mengurangi resiko transmisi mikro-organisme dan menjaga teknik asepsis
9 Memulai cairan infus sesuai peraturan rumah sakit setempat
10 Berikan terbutalin SC atau IV atau ritodrin  IV sesuai peraturan rumah sakit setempat Mengurangi kemungkinan kontraksi uterus selama dan setelah pelaksanaan prosedur
11 Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan dan letak plasenta dicari serta daerah penumpukan cairan ditemukan Mengurangi kemungkinan penusukan berdarah dan abortus serta mengurangi resiko terjadinya komplikasi
12 Tutupi area tersebut dengan duk steril Mencegah pemaparan yang tidak perlu
13 Bersihkan dinding perut secara asepsis Mengurangi resiko patogen memasuki kulit lewat lokasi penusukan
14 Bantu dokter menginfitrasikan 2 mL lignokain 1 % pada daerah yang ditentukan Menghilangkan sensasi nyeri pada area tersebut
15 Pastikan jeda waktu yang cukup antara penyuntikan obat anestesi lokal dengan penusukan jarum ke dalam kantung amnion Mengurangi rasa nyeri dan tidak nyaman terkait pelaksanaan prosedur
16 Bantu dokter ketika memasukkan jarum dan stilet (jarum spinal ukuran 20 sampai 22 dengan panjang 10 cm) lewat dinding perut ke dalam uterus dengan panduan USG. Stilet kemudian ditarik dan beberapa tetes cairan dibuang Daerah penumpukan cairan diidentifikasi oleh USG. 2 mL cairan awal mungkin sudah terkontaminasi oleh sel-sel maternal atau darah dan harus dibuang
17 Dokter menarik 10-20 mL cairan amnion untuk analisis atau jumlah yang lebih sedikit bila amniosentesis dilakukan pada trimester pertama
18 Dokter menarik jarum nya, tempelkan perban dan plester pada lokasi penusukan Meminimalisir kerusakan jaringan dan rasa tidak nyaman pada pasien
19 Pantau pasien selama pelaksanaan prosedur terkait tanda persalinan prematur, perdarahan atau gawat janin Deteksi dini komplikasi maternal/janin
20 Buang bahan-bahan yang sudah terpakai Mencegah penyebaran mikro-organisme
21 Lepas dan buang sarung tangan Mencegah penyebaran mikro-organisme
22 Cuci tangan Mencegah terjadinya infeksi silang
23 Simpan kembali peralatandi ruang peralatan
24 Ukuran tanda vital ibu dan ambil gambar frekuensi detak jantung janin selama 20 menit Berperan sebagai data awal untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya komplikasi
25 Instruksikan pasien untuk melaporkan tanda perdarahan, aktivitas janin yang tidak biasa, nyeri perut, keram perut, atau demam ketika berada di rumah pasca pelaksanaan prosedur Mengidentifikasi tanda awal komplikasi
26 Beri label pada wadah sampel dengan benar, termasuk di dalamnya perkiraan usia kehamilan dan perkirakan waktu kelahiran. Kirimkan sampel ke laboratorium untuk segera diperiksa Memastikan identifikasi sampel dari pelaporan hasil yang benar
27 Catat prosedur terkait tanggal, waktu, nama dokter yang melakukan pemeriksaan, respons maternal dan janin serta detil sampel yang diambil Memberikan dokumentasi prosedur yang akurat

 

KOMPLIKASI

Maternal

  1. Infeksi
  2. Perdarahan anterpartum
  3. Isoimunisasi-rhesus
  4. Janin meninggal
  5. Aborsi
  6. Persalinan prematur
  7. Kebocoran cairan amnion

Janin

  1. Perdarahan
  2. Trauma tali pusat dan pembuluh darah
  3. Trauma janin akibat tusukan jarum
  4. Kematian
PERHATIAN KHUSUS
  1. Warna cairan amnion mengindikasikan kondisi janin
  • Keruh dengan warna coklat kehijauan – mekonium pada cairan amnion
  • Kuning dengan sedikit kekeruhan – penyakit hemolitik neonatus
  • Keruh dengan warna merah gelap – darah pada cairan amnion
  • Keruh dengan warna coklat kuning (jus tembakau) – kematian intrauterin