Pelaksaan Biopsi Hati Bagi Perawat

Pelaksaan Biopsi Hati Bagi Perawat
Pelaksaan Biopsi Hati Bagi Perawat

Definisi Biopsi Hati – Membantu pengambilan sampel jaringan hati dengan aspirasi oleh jarum menggunakan teknik aseptik

TUJUAN
Mendiagnosis penyakit hati melalui pemeriksaan histology

BERBAGAI JENIS BIOPSI

  1. Biopsi terbuka
  2. Biopsi tertutup

BIOPSI TERBUKA
Biopsi terbuka memerlukan anestesi umum dan insisi abdomen yang besar. Metode ini biasanya tidak dilakukan kecuali abdomen dibedah karena alas an bedah

Keuntungan :

  1. Observasi keseluruhan hati secara langsung
  2. Mengidentifikasi jaringan yang mengalami perubahan secara garis besar
  3. Mengambil sampel biopsi untuk pemeriksaan

(Baca Juga : Pelaksanaan Sistoskopi Bagi Perawat Untuk Pasien)

BIOPSI TERTUTUP (BIOPSI HATI PERKUTANEUS)
Biasa dilakukan dalam praktek sekarang. Dilakukan dengan fluoroskopi dan merupakan prosedur yang lebih sederhana daripada biopsi terbuka

Kontraindikasi untuk biopsi hati perkutaneus
  1. Trombositopeni berat
  2. Infeksi local basis paru-paru
  3. Pemanjangan waktu protrombin atau kelainan perdarahan lainnya
  4. Peritonitis
  5. Asites masif
  6. Pasien yang tidak kooperatif
  7. Ikterus obstruktif ekstrahepatik, khusus nya yang disertaii pembesaran kandung empedu

PERANGKAT ALAT
Sebuah nampan steril berisi:

  1. Forseps penjepit kasa
  2. Spuit 5 mL beserta jarum untuk pemberian anestesi local
  3. Jarum biopsi hati dengan silet (jarum biopsi Vim silverman atau Menghini)
  4. Botol penampung sampel yang disertai tutup
  5. Mangkuk berisi losion pembersih
  6. Spuit aspirasi, bila akan dilakukan biopsi aspirasi
  7. Pinset
  8. Duk penutup atau duk bolong
  9. Bola-bola kapas, potongan-potongan kasa dan kapas usap
  10. Gaun, sarung tangan dan masker

Nampan bersih berisi :

  1. Perlak dan duk
  2. Nampan ginjal
  3. Alkohol, indin, benzoin tinktur, dll
  4. Lignokain 2 %
  5. Apron
  6. Plester dan gunting
  7. Formalin 10% untuk mengawetkan sampel biopsi
  8. Set pencukur

PROSEDUR

NO TINDAKAN KEPERAWATAN RASIONALISASI
1 Jelaskan prosedurnya kepada pasien dan keluarganya serta beritahukan apa yang harus dilakukannya Mendapatkan kerja sama dan mengurangi kecemasan pasien
2 Minta izin tertulis dari pasien Mencegah tuntutan terhadap staf medis
3 Pastikan bahwa status koagolasi pasien berada dalam batas normal Mencegah terjadinya komplikasi perdarahan selama pelaksanaan prosedur
4 Periksa dan catat tanda vital awal Mendapatkan data awal
5 Instruksikan pasien untuk puasa selama 6-8 jam sebelum pelaksanaan prosedur Mencegah resiko aspirasi selama pelaksaan prosedur
6 Berikan premedikasi (analgesia, sedasi) sesuai instruksi dokter
7 Instruksikan pasien untuk tidak mengkonsumsi aspirin, NSAID atau antikoagulan 2 minggu sebelum pelaksanaan prosedur Mencegah kecenderungan perdarahan
8 Posisikan pasien telentang atau miring ke kiri dengan lengan kanan dielevasi Posisi ini memudahkan penusukan jarum
9 Cukur dan bersihkan ruang interkosta delapan dan Sembilan pada lokasi insisi
10 Instruksikan pasien untuk menarik beberapa napas dalam dan menahan napas ketika jarum ditusukkan masuk kedalam hati lewat jaringan interkostal atau subkostal Menghindari penusukan diafragma
11 Rangkaian jarum khusus diputar untuk mengambil potongan jaringan dan kemudia tarik keluar jarum tersebut
12 Bantu dokter menutup lokasi penusukan dengan benzoin tinktur dan pasang balutan penekan
13 Tampung sampel dalam wadah steril, beri label dan kirimkan ke laboratorium
14 Instruksikan pasien untuk berbaring miring ke kanan
15 Catat prosedurnya disertai tanggal, metode yang digunakan dan komplikasi yang terjadi bila ada Berperan sebagai alat komunikasi di antara staf perawat

 

PERAWATAN PASCA PROSEDUR

  1. Pantau tanda vital setiap 15 menit selama 2 jam, dan setiap 60 menit selama 4 jam
  2. Periksa ada tidaknya takikardi dan penurunan tekanan darah yang dapat menandakan adanya perdarahan
  3. Periksa lokasi penusukan dengan memantau balutan, mempalpasi area di sekitarnya untuk mendeteksi ada tidaknya krepitasi dan hematoma
  4. Pantau ada tidaknya kemunculan nyeri pada kuadran kanan atas perut akibat penumpukan darah atau cairan empedu subkapsular atau pada bahu kanan sebagai akibat adanya darah pada permukaan bawah diafragma
  5. Jaga pasien tetap diatas ranjang pada posisi miring kanan selama 24 jam pasca prosedur untuk mengurangi resiko perdarahan dan kebocoran cairan empedu
  6. Berikan obat-obat pasca prosedur sesuai kebutuhan individu, tergantung dari status fisik pasien
  7. Berikan vitamin K bila diinstruksikan
  8. Periksa pola pernapasan untuk pemantauan muncul tidaknya sesak
  9. Ukur lingkar perut setiap jam selama 12 jam pertama